RSS

Arsip Kategori: BARAT

The Artist (2011)

INFO :

IMDB RANTING : http://www.imdb.com/title/tt1655442/

Jenis Film: N/A
Produser: Thomas Langmann
Produksi: The Weinstein Company
Sutradara: Michel Hazanavicius

 

 

 

 

 

TRAILER :

 

SINOPSIS :

Sesuatu yang wajar jika kita menyebut Michel Hazanavicius sebagai sutradara sinting. Bagaimana tidak, di era ketika para sineas dunia mengeksplorasi kecanggihan teknologi dengan pemanfaatan 3D serta efek khusus secara gila-gilaan, Hazanavicius justru nekat membesut sebuah film bisu dan hitam putih. Sebuah pertaruhan yang sangat berani. Siapa yang rela menyisakan waktu dan uangnya demi menyaksikan sebuah film hitam putih nan bisu selain para kritikus dan penggila film? Rasanya, The Artist pun tidak akan sepopuler sekarang apabila Academy tidak mengganjarnya dengan 5 piala Oscar, termasuk Film Terbaik. Bukan bermaksud pesimis, hanya mencoba untuk bersikap realistis. Ketika 21 Cineplex merilisnya di bioskop-bioskop besar jaringannya, masih dirasa perlu bagi mereka untuk mencantumkan peringatan kepada calon penonton melalui poster, “film ini hitam putih dan tanpa dialog”, sebagai antisipasi agar peristiwa “ganti rugi karena merasa tertipu” seperti yang terjadi di Inggris tidak kembali terulang. Dengan peringatan seperti ini, belum apa-apa banyak masyarakat yang merasa terintimidasi. Sungguh disayangkan, padahal The Artist adalah sebuah film yang luar biasa indah.

The Artist membahas mengenai era kejayaan film bisu, masa transisi ke film bersuara hingga bagaimana seorang aktor film bisu menyikapi masa transisi ini. Aktor film bisu yang dimaksud adalah George Valentin (Jean Dujardin), seorang aktor yang menyerupai George Clooney di masa kini yang film-filmnya senantiasa mencetak box office dan para penggemar mengelu-elukannya. Hidupnya bisa dibilang sempurna, dia telah memiliki semua apa yang dibutuhkan. Entah karena sombong atau tak siap, ketika pemilik studio, Al Zimmer (John Goodman), mengutarakan niatnya untuk membuat film bersuara, Geroge Valentin justru tak menganggapnya serius. Dia tetap keukeuh bahwa film bisu masih diminati. Didepak dari studio, George Valentin membuat film bisunya sendiri di tengah terjangan film bersuara yang digila-gilai. Anak didiknya, Peppy Miller (Berenice Bejo), kian melejit karirnya, sementara Valentin perlahan mulai dilupakan setelah filmnya flop. “Saatnya memberi jalan pada yang muda,” begitu ujar Peppy. Hidupnya pun hancur. Istri yang dicintainya, Doris (Penelope Ann Miller) pergi meninggalkannya. Hanya anjing peliharaannya, Jack, dan si supir, Clifton (James Cromwell) yang masih setia mendampingi.

Pernahkah Anda menitikkan air mata saat menonton sebuah film karena saking indahnya? Saya pernah beberapa kali, dan The Artist adalah salah satunya. Film arahan sutradara Prancis, Michel Hazanavicius, ini tidak hanya indah, tetapi juga unik, cerdas, lucu, lembut, dan menyentuh. Tanpa perlu memaksa para pemainnya merengek-rengek sesenggukan, air mata penonton tetap berhasil tumpah. Bahkan untuk pertama kalinya, di bioskop Semarang, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana The Artist sanggup membuat sebagian besar penonton terharu dan, yang lebih luar biasa lagi, memberikan standing ovation setelah film berakhir! Sebuah pemandangan yang langka. Tidak menyangka efeknya akan sebesar itu. Hanya dengan bermodalkan cerita yang sederhana dan intertitle sebagai pengganti dialog, Hazanavicius sanggup membuat penonton terkoneksi dengan film arahannya. Sekalipun ini adalah film bisu, bukan berarti The Artist sepi total yang menyebabkan suara Anda saat berbisik di dalam studio terdengar bagaikan Dolby Digital. Musik gubahan Ludovic Bource yang menawan menemani sepanjang perjalanan Anda menyaksikan sekelumit sejarah film bisu.

Beruntung The Artist diperkuat oleh pemain-pemain yang hebat. Jean Dujardin sanggup mengaduk-aduk emosi penonton, memberikan perasaan yang tidak menentu kepada Valentin. Terkadang dia adalah sebuah karakter yang menyenangkan, tetapi terkadang menyebalkan luar biasa terutama saat dia menolak bergabung dengan generasi anyar, namun dia pun sebenarnya patut dikasihani. Pesonanya yang kuat mengingatkan pada Humphrey Bogart dan Douglas Fairbanks. Sementara Berenice Bejo tampil enerjik sebagai gadis muda penuh mimpi yang ceria dan menyenangkan, Peppy Miller. Bintang pendukungnya tidak terlalu menonjol karena tertutup oleh pesona Dujardin dan Bejo, kecuali Uggie yang memerankan Jack si anjing yang sangat setia kepada majikannya. Mungkin bagi sebagian penonton akting dari Dujardin maupun Bejo terkesan berlebihan, dan naskahnya pun klise tiada tara bak melodrama kebanyakan. Jika Anda termasuk salah satunya, ada baiknya menjajal ‘film bisu beneran’ terlebih dahulu sebelum menyaksikan The Artist. Ini adalah sebuah homage terhadap era film bisu yang terbungkus elegan dan berusaha untuk setia kepada ‘tuannya’ layaknya Clifton dan Jack.

Salah satu wujud kesetiaan Hazanavicius nampak pada tempo film yang mengalir ringan menyenangkan bak film bisu Hollywood tahun 1920-an, sekalipun ini sebenarnya adalah produksi Prancis yang terkenal lambat dalam menuturkan alur film-filmnya. Selain itu, film ini pun dibuat menggunakan aspek rasio layar 1.33:1 yang umum digunakan oleh film bisu. Dan saya ingin mengatakan kepada para pembaca yang budiman bahwa saya tidak sekalipun mengintip jam tangan! Bukti bahwa saya sangat menikmati film ini. Rasanya saya ingin menontonnya lagi, lagi, dan lagi. Sayangnya belum sempat saya mewujudkan keinginan saya, The Artist sudah tergusur dari bioskop. Menontonnya ulang di layar laptop atau televisi tidak akan memberikan pengalaman menonton yang sama. The Artist lebih enak dinikmati di layar bioskop. Sungguh pedih melihat film sebrilian ini kurang diminati oleh masyarakat hanya karena ini adalah ‘film bisu dan hitam putih’. Cobalah terlebih dahulu, Anda dijamin tidak akan menyesalinya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘silence is golden’? Dan pepatah itu cocok sekali diberikan kepada The Artist. What a wonderful movie to celebrate cinema!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2012 in BARAT, DRAMA

 

The Grey (2011)

INFO :

IMDB RANTING : http://www.imdb.com/title/tt1601913/

Jenis Film: Thriller
Produser: Jules Daly, Joe Carnahan, Ridley Scott, Mickey Liddell
Produksi: LIDDELL ENTERTAINMENT, SCOTT FREE PRODUCTIONS
Sutradara: Joe Carnahan

 

 

 

 

 

TRAILER :

SINOPSIS :

Di film “The Grey”, sutradara Joe Carnahan menempatkan tujuh karakter di tengah-tengah pegunungan salju berbahaya yang juga merupakan daerah kekuasaan sekelompok serigala. Pada dasarnya “The Grey” adalah sebuah film petualangan yang mengisahkan sekelompok pria yang bergulat dengan badai salju, udara super dingin, ancaman kelaparan, dataran berbahaya dan sekelompok serigala untuk menemukan jalan mereka kembali ke peradaban.

Dengan gambaran seperti itu, dan trailer yang ditawarkan, penonton langsung berfikir bahwa film ini akan penuh dengan aksi seru dan pertarungan antara manusia dengan serigala, tapi pada kenyataannya tidak. Alih-alih action, film ini lebih memfokuskan diri pada masing-masing karakter yang selamat dari kecelakaan pesawat dan terdampar di pegunungan salju. “The Grey” pun menyinggung-nyinggung soal Tuhan dan keprcayaan, serta bagaimana manusia berhadapan dengan kematian.

Para penonton yang mengharapkan banyak action akan sangat kecewa karenanya. Alih-alih menawarkan pertarungan seru manusia lawan serigala, “The Grey” malah menekankan mengenai intrikasi bagaimana manusia bereaksi atas marabahaya yang diberikan oleh kehadiran para serigala yang merasa terancam daerahnya atas kedatangan mereka.

Filmnya sendiri dibuka dengan sebuah prolog pendek sambil memperkenalkan si tokoh utama Ottway (Neeson), seorang penembak jitu yang pekerjaanya adalah menembaki serigala liar untuk melindungi para pekerja yang tengah sibuk merangkai jalur pipa di sebuah pegunungan bersalju. Meski tampangnya terlihat tangguh, Ottway sejatinya menyimpan rasa sedih luar biasa. Lewat potongan-potongan flashback penonton akan mengetahui bahwa ia telah kehilangan kekasihnya dan kini hidup tanpa semangat, dan bahkan ada masanya dimana ia tinggal sejengkal lagi dari menarik pelatuk ke dalam mulutnya.

Untungnya niat bunuh diri tersebut urung, dan ia pun menaiki pesawat dengan sekelompok pekerja jalur pipa kembali ke Anchorage. Namun di perjalanan pesawat tersebut jatuh dan ia menjadi salah seorang dari segelintir pekerja yang bertahan hidup.

Ottway pun mengajak keenap pria sesama penumpang pesawat yang selamat untuk bergerak ke arah hutan. Ia yakin jika mereka diam di lokasi jatuhnya pesawat, serigala-serigala tersebut akan menyerang mereka. Namun tampaknya perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus. Grup tersebut terus berkurang orangnya satu demi satu karena berbagai hal, termasuk ancaman serigala.

Ending “The Grey” yang tiba-tiba tampaknya akan mengesalkan beberapa penonton. Namun sepertinya ending seperti ini dipilih karena cocok dengan alur cerita yang dibangun sejak awal. Secara keseluruhan, “The Grey” adalah film yang sangat dewasa dari sutradara action kenamaan Joe Carnahan (The A-Team). Memang ada beberapa adegan yang terlalu dipaksakan –beberapa dialognya pun terasa sekali bekas hapalan. Namun, “The Grey” mampu memberikan kejutan dan suspens di tengah-tengah kisahnya yang kaya akan kontemplatifitas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2012 in BARAT, THRILLER

 
Video

The Ides of March (2011)

INFO :

IMDB RANTING : http://www.imdb.com/title/tt1124035/

Jenis Film: Drama
Produser: Brian Oliver, George Clooney, Grant Heslov
Produksi: Alliance Films
Sutradara: George Clooney

TRAILER :

SINOPSIS :

The Ides of March”, disutradarai dan dibintangi oleh George Clooney sebagai seorang calon presiden dari partai Demokrat di Amerika menawarkan tontonan menarik seputar kotornya dunia politik yang penuh dengan tipu daya. Dalam film ini George Clooney menggambarkan betapa para politikus mengkhianati konstintuen mereka, pasangan hidup mereka, dan kehormatan mereka sendiri.

Mike Morris yang diperankan oleh Clooney adalah seorang liberal yang membela pernikahan kaum gay, mendukung kebebasan minyak di Amerika dan mendeklarasikan satu-satunya agama yang ia anut adalah Konstitusi –dikisahkan sedang bersaing ketat dengan senator konservatif dari partai yang sama di pemilu utama yang menentukan di kota Ohio.

Stephen Myers, yang diperankan dengan sangat prima oleh Ryan Gosling adalah sekretaris pers untuk Morris dan mungkin satu-satunya orang yang benar-benar percaya akan misi yang dikoar-koarkan oleh Morris selama kampanye berlangsung. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Myers pun melihat bahwa dunia politik tak pandang bulu dan ia pun terjebak ditengah-tengah peperangan kotor antar sesama senator.

Selain penampilan Clooney dan Gosling yang brilian, di dalam film ini ada Philip Seymour Hoffman yang berperan sebagai manajer kampanye Morris, Paul Giamatti sebagai manajer kampanye rival, Evan Rachel Wood sebagai pegawai magang yang menggoda, Marisa Tomei sebagai reporter the New York Times yang penuh rasa ingin tahu, dan Jeffrey Wright sebagai senator yang suaranya diperebutkan oleh Morris dan Pullman.

The Ides of March” sangat menarik untuk disaksikan karena permainan kata-kata dan akting yang disajikan tidak setengah-setengah. Apalagi Gosling, ia berhasil menampilkan karakternya bertumbuh dari seorang pria idealis hingga menjadi seorang pria yang mampu menghalalkan segala cara untuk sukses.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2012 in BARAT, DRAMA

 

Tag: ,

Man On A Ledge

INFO :

IMDB RANTING : http://www.imdb.com/title/tt1568338/

Jenis Film: Thriller
Produser: Mark Vahradian, Lorenzo Di Bonaventura
Produksi: ENTERTAINMENT ONE
Sutradara: Asger Leth

 

 

 

 

TRAILER :

SINOPSIS:

Film aksi thriller memang bisa memacu adrenalin, apalagi thriller hollywood yang sarat akan adegan pembunuhan. Namun kali ini akan ada sesuatu yang berbeda, bukan pembunuhan atautup darah yang akan kita lihat, tapi detik-detik menjelang seseorang yang mencoba bunuh diri dari gedung pencakar langit.

Man On A Ledge, itulah judul film yang akan menampilkan aksi seorang pria yang tengah mencoba melakukan bunuh diri dengan melompat dari Manhattan Hotel. Nick Cassidy adalah  seorang mantan polisi yang kehilangan pekerjaan sekaligus tengah berduka akan kematian ayahnya. Ia kini terjerumus dalam kehidupan kelam yang menjadikannya seorang  buronan.

Merasa derpresi, ia lari menuju puncak Manhattan Hotel dan berniat bunuh diri. Namun ada yang janggal pada kasus kali ini, nampaknya Nick telah merencanakan sesuatu yang lebih besar dibalik usaha bunuh dirinya.

Sutradara Asger Leth percaya diri film ini akan menuai kesuksesan dengan ide cerita besar yang dapat menimbulkan rasa penasaran penontonnya. Sederetan pemain yang sudah tak asing lagi juga bermain dalam film ini, seperti Sam Worthington, Elizabeth Banks, Anthony Mackie, Edward Burns, serta Jamie Bell.

Simpan rasa penasaran anda, karena Man On A Ledge akan rilis di bioskop tanah air pada pertengahan Maret tahun ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2012 in BARAT, THRILLER

 

Tag:

Safe House (2012)

INFO:

IMDB RANTING: http://www.imdb.com/title/tt1599348/

Jenis Film: Action
Produser: Scott Stuber
Produksi: UNIVERSAL PICTURES
Sutradara: Daniel Espinosa

 

 

 

 

Ryan Reynolds berperan sebagai agen CIA baru, Matt Weston. Selama hampir satu tahun ia bekerja menjaga sebuah rumah persembunyian CIA kosong dan berharap segera dipindahkan ke divisi lapangan. Sampai suatu saat seorang buronan CIA, Tobin Frost (Denzel Washington) tiba-tiba saja diarahkan ke rumah persembunyian yang dijaga oleh Matt. Kedatangan Frost secara tak sengaja mengubah kehidupan Weston 180 derajat.

Penulis naskah anyaran David Guggenheim yang sebelumnya bekerja sebagai editor untuk Us Weekly, dengan cermat memberikan backstory kuat untuk masing-masing karakter. Bahkan karakter Frost pun sejak awal dibuat ambigu, jadi disepanjang film penonton dibuat menebak-nebak siapakah yang sebenarnya orang jahat dibalik kasus ini. Yang jelas, Weston kini diincar oleh seorang pembunuh bayaran bernama Vargas yang wujud dan asal-muasalnya tetap rahasia hingga menjelang film berakhir.

“Safe House” juga tampaknya dibuat sedikit serius dari segi drama. Ada beberapa adegan dimana Ryan Reynolds menitikkan air mata, meski situasinya sendiri tidak sepenuhnya mengakomodir emosi tersebut. Namun sutradara Daniel Espinosa tetap berhasil menjaga chemistry antara Reynolds dengan Denzel Washington yang terus menguat dari satu adegan ke adegan lain. Sebagai sutradara non-America Espinosa tidak sendirian, di Hollywood kini banyak sutradara asal Skandinavia yang menyutradarai film-film berbujet besar seperti Thomas Alfredson dari Swedia (“Tinker, Tailor, Soldier, Spy“) dan Baltasar Kormákur (“Contraband“) dari Islandia.

Ketika Universal Pictures mengontrak Daniel Espinosa untuk menyutradarai thriller agen CIA “Safe House”, studio tersebut tahu bahwa hasilnya bakal untung-untungan. Filmmaker asal Swedia yang menyutradarai film ini sebelumnya belum pernah membuat sebuah film berbahasa Inggris, belum pernah bekerja sama dengan bintang-bintang besar seperti Denzel Washington dan Ryan Reynolds, dan dia yang tadinya membuat film berbujet $4 juta kini harus menggawangi produksi Hollywood berbiaya $85 juta.

Para produser film yang mengeluarkan uang untuk produksi ini pada awalnya sempat khawatir dengan kesuksesan “Safe House”. Apalagi ketika Espinosa mengirimkan hasil syuting awal filmnya dari Afrika Utara tahun lalu kepada para eksekutif di California, Amerika dimana sang sutradara baru syuting sebagian adegan di dalam ruangan tertutup tanpa jendela dan pintu. Kamera-kameranya tidak banyak memfokuskan diri pada wajah para aktor, dank klip-klip terpisah tersebut terlihat sedikit gelap.

“Mereka bilang film ini tampak seperti film Perancis di tahun 1960’an,” ujar Espinosa yang kini berusia 34 tahun tersebut. “Namun itulah hasil akhir yang saya maksudkan.”

Hollywood sendiri sepertinya sedang senang merekrut talent-talent baru ke dalam industri perfilman mereka dan sudah banyak mengimpor sutradara dari inudstri film independen. Namun, produser “Safe House”, Scott Stuber menjelaskan bahwa, “Kini semakin sulit membuat film action yang bisa menciptakan momen-momen yang mengejutkan penonton.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2012 in BARAT

 

Tag: , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.